Kota Pontianak dikenal juga dengan sebutan “Khun Tien” nama yang diberikan oleh Etnis Tionghoa Pontianak.

Pontianak yang terkenal dengan Kota Khatulistiwa karena dilalui oleh garis lintang 00, Di bagian utara Kota Pontianak Tepatnya di Siantan berdiri Tugu Khatulistiwa sebagai tonggak garis ekuator yang di bangun pada tahun 1928 oleh seorang seorang ahli geografi yang berasal dari Belanda. Setiap 2 tahun sekali tepatnya tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September matahari siang akan berada tepat diatas kepala anda, sehingga membuat tugu dan benda disekitarnya tidak memiliki bayangan.

Selain terkenal akan Tugu Khatulistiwa-nya, Pontianak juga dilalui oleh sungai terpanjang di Indonesia yaitu Sungai Kapuas dan Sungai Landak yang kemudian diabadikan oleh pemerintah daerah setempat sebagi lambang kota Pontianak.

Kota Pontianak terletak pada Lintasan Garis Khatulistiwa dengan ketinggian berkisar antara 0,10 meter sampai 1,50 meter diatas permukaan laut. Luas Kota Pontianak adalah luas 107,82 km². Kota Pontianak terbagi menajadi beberapa belahan diantaranya:

  • Belahan Utara dengan Kecamatan Pontianak Utara
  • Belahan Timur dengan Kecamatan Pontianak Timur
  • Belahan Selatan dengan Kecamatan Pontianak Selatan
  • Belahan Barat dengan Kecamatan Pontianak Barat
  • Belahan Tenggara dengan Kecamatan Pontianak Tenggara
  • Bagian Kota dengan Kecamatan Pontianak Kota

Kota Pontianak terletak pada garis lintang 0 derajat bertepatan dengan garis Khatulistiwa dan 109 derajat, 20 menit, 00 detik Bujur Timur.

Dengan garis lintang yang melewati Kota Pontianak membuat daerah ini beriklim tropis dengan curah hujan yang tinggi antara 3.000-4.000 mm pertahun yang jatuh pada bulan Mei hingga Oktober menyebabkan hutannya di tumbuhi berbagai pepohonan yang tumbuh subur. Suhu rata-rata yang dimiliki daerah ini antara 280 C-300 C pada siang hari suhu bahkan mencapai lebih dari 320 C.

Keadaan cuaca yang menguntungkan ini pun seakan menjadi berkah tersendiri bagi masyarakatnya yang kebanyakan petani dan pedagang. Pertanian meliputi Ubi, Aloevera (Lidah Buaya), Ubi dan sayur mayor. Pontianak juga menjadi salah satu penghasil Pisang, Nanas dan Nangka.

Di sektor perdagangan Kota Pontianak tampak berkembang dengan pesat, ditandai dengan berdirinya Mall dan pusat-pusat perbelanjaan. Seperti Mall Pontianak, Matahari, Ayani Mega Mall Pontianak dan lain-lain.

Potensi komoditi unggulan Pontianak adalah tanaman lidah buaya. Lidah buaya setidaknya sudah mulai menjadi tanaman komoditi yang dikembangkan sejak tahun 1980 di Siantan Hulu. Sepuluh tahun kemudian, ketika tanaman ini dibudidayakan secara lebih serius, hasil yang didapatkan oleh masyarakat relatif menguntungkan. Pada tahun 1992, sosialisasi tentang potensi dan manfaat ekonomi dari tanaman ini mulai makin masif.

Hal itu tak terlepas dari kondisi lahan pertanian di kawasan Siantan Hulu yang bergambut, sehingga kandungan unsur mineralnya sangat cocok bagi pertumbuhan lidah buaya secara maksimal. Dalam waktu kurang dari 10 tahun, tanaman ini sudah menjadi ikon baru kota Pontianak. Melimpahnya produksi tanaman lidah buaya mendorong pemerintah setempat melakukan pembinaan untuk mengolah berbagai produk olahan yang menggunakan bahan baku lidah buaya seperti minuman, dodol, jelly, kerupuk, dan sebagainya.

Pemerintah Kota Pontianak sendiri juga membangun pusat pengembangan dan budidaya lidah buaya yang disebut Aloe Vera Center (AVC), di bawah naungan Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Pontianak.