You are herePemetaan Rawan Bencana Banjir

Pemetaan Rawan Bencana Banjir


By Tamu - Posted on 07 Juli 2011

Kabid. Penanggulangan Bencana Kota Pontianak
(Satryo. SH)

1. LATAR BELAKANG
Kerusakan lingkungan telah menjadi keprihatinan banyak pihak, hal ini disebabkan oleh timbulnya bencana yang dirasakan seperti bencana alam banjir, kekeringan yang semakin meningkat. Rusaknya wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai daerah tangkapan air diduga sebagai salah satu penyebab utama terjadinya bencana alam tersebut. Kerusakan DAS dipercepat oleh peningkatan pemanfaatan sumberdaya alam sebagai akibat dari pertambahan penduduk dan perkembangan ekonomi, konflik kepentingan dan kurang keterpaduan antar sektor, antar wilayah hulu-tengah-hilir, terutama pada era otonomi daerah. Pada era otonomi daerah, sumber daya alam ditempatkan sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Melihat kondisi fisik Kota Pontianak Pemetaan daerah rawan bencana sangat diperlukan dalam rangka memberikan sebuah ”early warning system” bagi masyarakat mengenai lokasi-lokasi yang dianggap beresiko tinggi terhadap bencana dan lokasi-lokasi yang aman dari bencana. Sehingga, diharapkan dari informasi tersebut dapat dilakukan langkah-langkah yang tepat bagi perencanaan tata ruang untuk memperbaiki lingkungan serta meminimalisir efek bencana secara efektif.
2. DASAR PELAKSANAAN.
Beberapa peraturan perundangan dan arahan kebijakan yang menjadi bahan acuan dalam Pemetaan Kawasan Rawan Bencana dan Mitigasi adalah:
1. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.
2. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
4. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 69 Tahun 2001 tentang Kepelabuhanan.
6. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional.
7. Peraturan Walikota Pontianak Nomor : 21 Tahun 2010 tentang Susunan organisasi,tugas pokok fungsi,dan tata kerja Badan Penangulangan Bencana Daerah Kota Pontianak
3. MAKSUD DAN SASARAN PEKERJAAN.
Maksud dari pekerjaan Pemetaan Kawasan Rawan Bencana ini adalah untuk menentukan lokasi daerah rawan bencana Kota Pontianak yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam penanggulan bencana dan mitigasi bencana.
Sedangkan sasaran adalah tersedianya peta lokasi daerah rawan bencana yang akan membantu pengambil keputusan untuk bertindak dalam masa sebelum bencana, antara lain terkait: kajian lokasi rawan bencana, manajemen bencana, mitigasi berbagai resiko bencana, evakuasi dan penyelamatan, dan pengembangan wilayah pesisir sungai Kapuas. Ataupun pada masa setelah bencana untuk membantu proses rekonstruksi wilayah terkena bencana.
4. RUANG LINGKUP KEGIATAN.
Lingkup Wilayah Kegiatan meliputi seluruh wilayah Kota Pontianak, sedangkan lingkup pekerjaan meliputi :
- Melakukan inventarisasi peta-peta pendukung
- Melakukan inventarisasi data-data sekunder
- Melakukan digitasi peta dan transformasi koordinat untuk menyeragamkan sistem koordinat
- Pembuatan model analisis dan pembobotan nilai dari peta – peta pendukung.
- Melakukan overlay analsisis spasial.
5. METODOLOGI PELAKSANAAN PEKERJAAN.
5.1 Pemetaan Rawan Bencana
Pemetaan daerah rawan bencana dilakukan dengan Metode non sistematik yaitu dengan menggunakan data-data dan informasi yang telah tersedia dari survei-survei terdahulu dan dilengkapi dengan peta-peta pendukung.
A. Pembuatan Peta Rawan Banjir
Karakteristik DAS sangat dipengaruhi pula oleh letaknya di dalam DAS itu sendiri. Untuk daerah hulu dengan alur sungai yang relatif curam dan bukit-bukit terjal, maka banjir dengan waktu datang sangat singkat sering terjadi. Namun di daerah ini banjir akan datang dengan waktu yang singkat, demikian pula dengan waktu berakhirnya, karena elevasi daerah yang relatif lebih tinggi sehingga air banjir dengan mudah mencari alur keluar. Untuk daerah tengah banjir yang terjadi datangnya tidak secepat pada daerah hulu, demikian pula air banjir biasanya masih mudah untuk diatuskan keluar daerah dengan gaya beratnya sendiri. Pada derah hilir, kemiringan dasar sungai maupun kemiringan tanah di kawasan ini biasanya sangat kecil dan relatif datar. Biasanya waktu datang banjir cukup lama, namun pengatusan air genangan juga mengalami kesulitan. Hal ini biasanya disebabkan oleh energi air yang sudah kecil, sehingga air genangan tidak mungkin diatuskan dengan gaya berat. Jika kondisi ini dibarengi dengan pasang surut air laut pada kondisi tinggi, maka pengatusan air tanpa bantuan pompa, hampir tidak mungkin. Pada daerah ini, penanganan banjir harus mengintegrasikan pengaruh aliran banjir di sungai dengan hidrodinamika gerakan pasang surut di laut .
Metoda Pemetaan Daerah Rawan Banjir di Sungai Yang Dangkal
Metoda pemetaan banjir di pingiran sungai kapuas maupun perkotaan daerah hulu maupun hilir yang relatif dangkal, menggunakan data sekunder peta geologi skala 1 : 100.000 sebagai dasar pengenalan jenis batuan secara regional. Selanjutnya dengan analisis peta topografi skala 1 : 25.000 di studio untuk memperkirakan zona banjir dari sebuah sungai berstadia dewasa (berkelok-kelok) berdasarkan sebaran dataran banjirnya. Dengan bekal peta dasar minimal skala 1 : 25.000 dilakukan survai geologi lapangan untuk mencari data primer berupa : tebal endapan aluvial di tebing, jenis endapan aluvial di tebing, bentuk fragmen batuan, lebar dan sebaran dataran banjir, jenis sedimen di dalam alur sungai, kelerengan sungai.
Metoda Pemetaan Daerah Rawan Banjir di Sungai yang Dalam
Pada lembah sungai yang dalam apalagi kelerengan dasar sungai masih cukup besar umumnya tidak mempunyai dataran banjir, karena air sungai tidak pernah melimpas ari bibir sungai, tetapi yang ada adalah teras-teras sungai yang terjadi secara alami atau buatan manusia untuk pemukiman. Endapan teras secara geologi adalah sedimen yang diendapkan di kiri-kanan sungai, di dalam bantaran dan prosesnya terjadi saat muka air sungai tinggi ketika ada kenaikan debit.
Untuk memetakan posisi dan koordinat pemukiman yang ada di bantaran sungai secara cepat, lebih efektif menggunakan interpretasi citra IKONOS / QUICKBIRD atau FOTO UDARA dengan skala 1 : 1000 – 1 : 10.000. Daerah pemukiman yang diperkirakan terkena banjir ditumpang tindihkan dengan kontur tinggi banjir tertentu yang di dapat dari perhitungan hidrologi dengan kala ulang tertentu. Kontur tinggi banjir tertentu harus di cek di lapangan karena akurasi kontur dari citra belum tentu benar.
Metoda pemetaan banjir yang efektif adalah hasil perhitungan hidrologi di uji silang dengan survey geologi lapangan terhadap teras sungai, yang di amati adalah : ketinggian endapan teras, tebal endapan, jenis endapan diplot pada peta dasar 1 : 1000 sampai 1 : 10.000. Pada banjir yang masih baru terjadi, yaitu kejadiannya 1-3 tahun yang lalu biasanya indikator sampah yang tersangkut di bambu/tebing masih bisa terlihat sebagai data pengontrol bagi hasil wawancara dengan masyarakat.
Data yang dibutuhkan adalah data peta kontur dari peta rupa bumi indonesia skala 1 : 25.000 dan peta DAS mencakup seluruh daerah Kalimantan Barat.
Model data yang digunakan adalah data Digital Elevation Model (DEM). DEM ini dibuat dengan interpolasi data digital kontur. DEM merupakan data raster atau grid yang merepresentasikan ketinggian diatas permukaan laut.
Dari data tersebut, dapat diturunkan berbagai macam data. Yaitu, slope (kelerengan), flow direction (arah aliran), flow accumulation (akumulasi aliran), stream power index (index kekuatan aliran) dan wetness index (index kebasahan).
Topographic Wetness index (index kebasahan) yang telah dibuat diklasifikasi menjadi tingkat kerawanan banjir. Klasifikasi yang dilakukan menjadi 5 kelas dengan, yaitu kelas sangat rawan, rawan, agak rawan, potensial rawan dan tidak rawan.
Tingkat Kerawanan Banjir Nilai Indek Kebasahan
Tidak Rawan 5.01 – 7.37
Potensial Rawan 7.37 – 9.73
Agak Rawan 9.73 – 12.091
Rawan 12.091 – 14.451
Sangat Rawan 14.451 – 16.812

PETA KALIMANTAN BARAT

PETA KOTA PONTIANAK