You are herePDAM Cari Alternatif Pengelolaan Air

PDAM Cari Alternatif Pengelolaan Air


By Tamu - Posted on 14 December 2009

Memasuki musim kemarau perlu dicari alternatif pengelolaan air di wilayah Kota Pontianak. Karena air baku PDAM di musim tersebut sudah terinterusi air laut. Untuk 2009 ini, selama 4 bulan terjadi interusi air laut.
Menurut Direktur Umum PDAM Tirta Khatulistiwa Pontianak, Agus Setiyoso, PDAM sudah melakukan berbagai cara untuk dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat di Kota Pontianak memasuki musim kemarau.
“Kami sudah membuat penepat terletak pada 25 km dari Kota Pontianak. Akan tetapi kemampuan memproduksi hanya sekitar 25 persen saja dari total kebutuhan. Dan secara keseluruhan membutuhkan Rp2,8 -3 miliar untuk pengolahan air asin ini,” kata Agus saat audiensi dengan PT Dairin Indonesia AMDK Megumi untuk penanganan air bersih, Senin (14/12) di ruang rapat Walikota Pontinak.
Dijelaskan Agus, interusi yang terjadi di Sungai Kapuas ternyata sudah hampir masuk ke penepat. “Untuk itulah kami berharap akan adanya solusi. Karena Kota Pontianak saat ini terkendala untuk mengubah sistem pengolahan air dengan menggunakan sistem riverse osmosis,” terang Agus.
Menanggapi hal tersebut, Manager PT Dairin Indonesia AMDK Megumi, I Ketut Satwika, mengaku pihaknya melakukan pengolahan air laut atau payau menjadi air minum. Tidak sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan Pemkot Pontianak dan PDAM Pontianak yang membutuhkan pengolahan air laut atau payau menjadi air laik pakai.
“Dengan menggunakan teknologi RO atau riverse osmosis kami dapat menghasilkan air dengan kualitas tinggi serta ramah lingkungan,” jelas I Ketut usai rapat.
Namun, biaya yang dibutuhkan pun tidak sedikit. Untuk menghasilkan air 1 m3 membutuhkan biaya lebih kurang Rp100 ribu. Sedangkan kebutuhan air di Kota Pontianak mencapai 60 m3 per harinya.
Sementara itu, Dewan Pengawas PDAM Tirta Khatulistiwa Pontianak, Thamrin Usman DEA, jika hanya dapat menghasilkan air untuk konsumsi tentu tidak bisa dibandingkan dengan kebutuhan air Kota Pontianak.
“Ya agak sedikit berpatah hati, mengingat biaya yang dikeluarkan akan lebih besar lagi jika hal ini dipaksakan,” terang Thamrin. (12)