You are herePAD Kota Pontianak Diatas Rata-Rata Nasional

PAD Kota Pontianak Diatas Rata-Rata Nasional


By Tamu - Posted on 10 January 2013

Bedah APBD Kota Pontianak 2013

PAD Kota Pontianak sebesar 22,45 persen jumlah ini masih diatas rata-rata PAD Pemerintah Daerah se Indonesia yang sebesar 20,4 persen. Apabila tidak mengikutsertakan Pemerintah Provinsi yang PAD-nya lebih besar maka rata-rata PAD Pemerintah Kabupaten/Kota se Indonesia hanya 8,4 persen yang berarti PAD Kota Pontianak jauh diatas rata-rata.
Hal ini diungkapkan Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Tanjungpura, Prof Dr. Eddy Suratman dalam pemaparan analisisnya pada acara Bedah APBD Kota Pontianak Tahun 2013 yang bertempat di Ruang Sidang Fakultas Ekonomi Universitas Tanjungpura Pontianak.
Ia menambahkan dari segi pendapatan sudah bagus. Kalau PAD sudah bagus masih ada 55,46 persen. Hal ini berarti kemandirian keuangan Kota Pontianak jauh lebih bagus dibandingkan Kabupaten/Kota lainnya.
Sementara itu pajak dareah Kota Pontianak tahun 2013 senilai Rp. 172 miliar lebih apabila dibandingkan 575.000 penduduk Kota Pontianak tahun 2013 ini menghasilkan tax ratio per kapita Rp. 299.478 yang jauh di atas rata-rata seluruh pemerintah daerah.
Sementara Belanja pegawai sebesar 42,47 persen, sementara rata-rata Kabupaten/Kota se Indonesia yaitu sebesar 50,9 persen dan rata-rata Kabupaten/Kota se Kalimantan Barat 45,9 persen. Ini berarti belanja pegawai Kota Pontianak sangat rendah.
Defisit Kota Pontianak tahun 2013 sebesar 1,9 persen dengan PD yang jauh lebih rendah dari rata-rata Kabupaten/Kota se Indonesia dengan jumlah 7 persen dan rata-rata Kabupaten/Kota se-Kalimantan Barat. “SILPA kita tahun 2012 yang dibawa ke Tahun anggaran 2013 besarnya 45,5 miliar rupiah. Kalau dibandingkan dana pembangunan 2013, SILPA kita sebenarnya berkontribusi sekitar 3,45 persen dibandingkan kota lainnya di Indonesia yang SILPA-nya berkontribusi 7,6 persen. Bandingkan rata-rata Kota/Kabupaten di Kalimantan Barat yang berkontribusi 5,2 persen. Ternyata, Kota Pontianak tidak mengandalkan SILPA untuk menutup defisitnya”. Kata Prof.dr. Eddy suratman. (Arif/Nas)