You are hereHikmah Kurban dan Ibadah Haji

Hikmah Kurban dan Ibadah Haji


By Tamu - Posted on 27 November 2009

Wakil Walikota Khotbah di Masjid Ramadhan

Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, laaillahailallahu Allahuakbar, begitu gema takbir yang berkumandang di penjuru dunia menyambut Hari Raya Idul Adha 1430 Hijriyah. Demikian juga di Kota Pontianak, Jum’at (27/11) pagi yang cerah diiringi kumandang takbir menyambut hari raya Idul Adha, masyarakat Kota Pontianak berbondong-bondong menuju ke lapangan maupun masjid-masjid untuk menunaikan shalat Idul Adha. Wakil Walikota Pontianak, Paryadi berserta istri menunaikan shalat Idul Adha di Masjid Ramadhan, Jalan Parit H. Husin II Pontianak. Dalam kesempatan tersebut, Paryadi memberikan khutbah Idul Adha 1430 H dengan tema Makna dan Hakikat Pengorbanan serta Pelaksanaan Ibadah Haji.
“Pada hari ini, tanggal 10 Dzulhijjah 1430 H bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha, saudara-saudara kita yang sedang melaksanakan ibadah haji berkumpul bersama sambil berdzikir, bertafakur menyadari dirinya adalah mahluk yang lemah, sambil mengenang segala kesalahan serta kekhilafan seraya mohon ampunan Allah, SWT,” ujar Paryadi membuka khutbah Shalat Idul Adha dihadapan jamaah Masjid Ramadhan.
Dikatakannya, perayaan hari raya Idul Adha atau hari raya Kurban mengingatkan pada peristiwa bersejarah yang terjadi ribuan tahun silam, dimana ketika Nabi Ibrahim, AS dengan penuh ketakwaan menjalankan perintah Allah, SWT untuk menyembelih anaknya yang sangat dicintai dan disayanginya yaitu Ismail, AS. Namun, lanjutnya, atas kekuasaan Allah, SWT secara tiba-tiba bukan Nabi Ismail, AS yang disembelih akan tetapi adalah seeokor domba. “Peristiwa inilah yang kemudian menjadi simbol bagi umat Islam sebagai wujud ketakwaan seorang manusia dalam mentaati perintah Allah, SWT,” tutur Paryadi.
Ia memaparkan ada beberapa pelajaran yang dapat diambil dari peristiwa yang dilalui Nabi Ibrahim, AS antara lain pertama, sebagai orang tua atau pimpinan kita tidak boleh bertindak dan bersikap otoriter atau sewenang-wenang. “Sebagai seorang pemimpin harus menjunjung tinggi nilai-nilai demokratis, tidak hanya selalu memberikan perintah tetapi juga harus mau mendengarkan aspirasi rakyatnya,” terangnya. Kedua, peran seorang ibu dalam mendidik sehingga melahirkan anak yang sholeh. “Karena dari peran ibulah karakter dan kepribadian anak terbentuk,” jelasnya. Dan ketiga, pembentukan anak yang sholeh tergantung dari orang tuanya. “Orang tua harus memahami bahwa keluarga merupakan institusi pendidikan yang tidak kalah pentingnya dengan pendidikan formal,” paparnya.
Kemudian lebih lanjut ia mengatakan ada beberapa pelajaran yang sangat berharga yang dapat diambil dari proses pelaksanaan ibadah haji diantaranya berpakaian ihram yang mana semua umat Islam yang menunaikan ibadah haji mengenakan pakaian yang sama dengan warna putih-putih. “Dengan pakaian ihram ini semuanya mengenakan pakaian yang sama, tidak ada lagi perbedaan baik itu dari tingkatan ekonomi, tinggi rendahnya status sosial maupun profesi seseorang,” ungkapnya.
Sedangkan thawaf dan sa’i mempunyai makna bahwa hidup ini bukan hanya sekedar berputar dan berkeliling menghabiskan waktu dan dana tanpa ada manfaat dan tujuan. “Akan tetapi makna tawaf ini sangat dalam karena dikerjakan secara serentak, berputar bersama yang melambangkan hidup di dunia ini harus bermasyarakat,” urainya.
Sa’i, kata dia, adalah berlari-lari kecil antara Bukit Shafa dan Marwa, melambangkan bahwa hidup tidak boleh berpangku tangan. “Harus ada usaha pada jalan yang benar, tidak hanya selalu menunggu uluran tangan orang lain,” ucap Paryadi.
Kemudian, lanjutnya, melontar jumrah juga bermakna sebagai pelampiasan rasa benci kepada setan. “Hal ini pun mengajarkan kita untuk berperang berjuang melawan setan,” imbuhnya. Dan terakhir adalah berkurban, kurban bukan hanya sekedar menyembelih hewan kurban dan dagingnya dibagikan kepada fakir miskin namun lebih dari itu secara filosofis makna kurban meliputi aspek yang lebih luas.
Ia menyimpulkan makna kurban dalam konteks keseharian bisa dilihat dari bagaimana pengorbanan seorang pemimpin yang berusaha untuk mensejahterahkan rakyatnya, pengorbanan seorang suami untuk menghidupi dan membina istri dan anak-anaknya, pengorbanan istri untuk selalu ikhlas terhadap apa yang diberikan suaminya termasuk pula dalam mendidik anak-anaknya. “Demikian pula pengorbanan anak untuk mematuhi kedua orang tuanya termasuk merawat dan memelihara orang tuanya apabila sudah lanjut usia,” pungkasnya. (12)